Ahli Ungkap 3 Sebab KRI Nanggala-402 Tenggelam 850 Meter

Ahli Ungkap 3 Sebab KRI Nanggala-402 Tenggelam 850 Meter

Ahli Ungkap 3 Sebab KRI Nanggala-402 Tenggelam 850 Meter

Pakar Kapal Selam dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya Wisnu Wardhana mengatakan 3 segi penyebab tenggelamnya KRI Nanggala-402 milik TNI AL sedalam 850 mtr. di perairan Bali.
Bandar Taruhan
Ketiga segi itu adalah tidak berfungsinya Air Ballast yang dapat sesuaikan ketinggian penyelaman kapal, tidak berfungsinya hydroplane atau sayap di badan kapal dan rusaknya Pressure Hull yang sebabkan kapal selanjutnya selanjutnya hancur sebab besarnya tekanan air.

“Kapal itu (Nanggala-402) hancur sebab pressure hull-nya ditekan dengan tekanan hidrostatistik yang 4 kali lebih besar, sebab dari 200 mtr. menjadi 800 meter. Makanya pressure hullnya pecah,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com lewat lanjutan telpon (27/4).

Ia mengatakan kapal tua buatan industri Howaldtswerke, Kiel, Jerman itu punya usia tidak cukup lebih 40 tahun. Pada th. 80-an kapal selanjutnya didesain hanya dapat menyelam terhadap kedalaman 300 meter. Namun bersamaan bertambahnya usia kapal, kini ia memprediksi hanya kuat terhadap kedalaman 200 mtr. saja.

Pada kedalaman yang melebihi ambang batas itu, susunan pelindung kapal, Pressure Hull yang ia sebut menyerupai cangkang telur dapat hancur sebab memperoleh tekanan hidrostatistik.

“Kalau tekanan diperbesar konsisten maka pecah telur itu. Kalau pecah maka tekanan air dari luar menerjang masuk dan menyerang manusia yang tersedia di di dalam telur,” ujarnya

“Makanya barang-barang yang tersedia di di dalam kapal Nanggala-402 itu muncrat terlihat semua. Dan itu membuktikan bahawa pressure hull telah pecah,” malah Wisnu.

Wisnu mengatakan lapisan yang menyerupai telur itu diatur di dalam ukuran sebesar 1 atmosfer. Jika diremas dari luar dan melebihi kekuatan maksimum, maka telur itu dapat pecah.

Di samping itu ia menjelaskan, di setiap kapal selam tidak punya teknologi yang dapat memberi tambahan rekaman perjalanan dan pembicaraan di di dalam kapal layaknya Black Box layaknya di pesawat terbang yang dapat membantu identifikasi kecelakaan kapal.

Menurutnya, identifikasi kasus dapat dikerjakan andaikan bangkai kapal selam Nanggala-402 telah di tarik ke darat. Dari rangka dan serpihan yang ditemukan itu, barulah dapat diidentifikasi apa yang berlangsung terhadap kapal selam milik TNI AL itu.

“Saya enggak mengerti apakah tersedia layaknya blackbox di dalam kapal selam. Tapi selama aku mempelajari kapal selam, aku tidak pernah mendapatkan tersedia blackbox di situ,” pungkasnya.